Tags

, , ,

Bagi kalangan hetero, gay dianggap sebagai penyakit mental dan dinilai sebuah aib serta kelainan. Bahkan oleh para pemuka agama yang konservatif atau tokoh agama ortodox, gay dianggap sebagai adzab atau pendosa. Sebuah anggapan yang salah kaprah dan saat ini dinilai kebablasan dalam memahami keragaman orientasi seksual.

Norma masyarakat yang mengacu pada mainstream heteronormativas. Heteronormativitas atau sering juga disebut heteronormatif adalah sebuah pandangan, pola pikir, kerangka tindakan berbasis heteroseksis (hubungan romantis-seksual laki-laki dengan perempuan). Di dalam definisi heteronormativitas melibatkan bias pendapat, diskriminatif (tidak adil dan menghakimi) dan stigmatif. Karena ada pandangan salah bahwa seks diluar heteroseks adalah tidak normal, seks yang “diizinkan” hanyalah heteroseks (diluar itu adalah immoral), pasangan sejenis tidak dibenarkan.

Nilai-nilai heteronormativas ini mengalami berbagai proses pelanggengan menjadi suatu nilai yang “benar”. Nilai ini kemudian yang semakin menyebar dan akhirnya menempatkan kelompok-kelompok yang ada diluar lingkaran menjadi marginal dan rentan (Vulnerable Group). Secara internal kelompok-kelompok ini tak pernah luput dari hegemoni ini. Hal inilah yang selanjutnya memecah belah kelompok dan melemahkan perjuangan. Kelompok secara tak sadar menyalahkan diri sendiri (yang seharusnya berjuang merebut hak-haknya yang dirampas). Sebagai contoh adalah perempuan yang condong menyalahkan kelompoknya sebagai penyebab terjadinya perkosaan (adanya kenyataan yang menyakitkan ini).

Gay tertutup yang kemudian menjadi homofobik yang menganggap kelompoknya “tidak normal” dan “berdosa”. Ya, kalangan homofobik (yang umumnya orang-orang yang memiliki jiwa homoseks atau ketertarikan pada sejenisnya namun mereka terus menerus menekan dan memendam perasaan itu hingga akhirnya muncul ketakutan dan kebencian yang mendalam dan berlebihan pada kalangan homo/gay. Dan anehnya, para homofobik dan pandangan heteronormatif ini membuat pandangan yang keliru di dalam masyarakat tentang keberadaan homoseks dengan segala varian dan sub populasinya dianggap berbeda.

Padahal pandangan itu harusnya sama, bagi kalangan gay (homoseks) adalah sebuah kelainan dan ketidak normalan jika pria menyukai wanita, sungguh aneh para pria bisa bercinta dengan wanita. Ketidak wajaran jika ada pria ngeseks dengan perempuan. Karena pola dan pandangan homoseks/gay, hubungan atau nilai yang benar adalah hubungan sejenis. Dan di luar hubungan sejenis (homoseks) adalah salah dan tidak normal. Karena kalangan homo akan jijik jika melihat pria bercinta dengan wanita.

Sungguh kekeliruan umum seperti ini dalam memahami homoseksualitas di Indonesia masih sangat kuat. Meskipun tuduhan bahwa homoseksualitas itu sama dengan “penyakit mental” “kelainan jiwa” dan beberapa keliruan lainnya sebenarnya telah lama dianulir dan ditentang oleh para ahli dan pakar kejiwaan serta dunia kedokteran. Pada tahun 1973 American Psychiatric Association (APA) menghapus kategori homoseksual sebagai gangguan jiwa.
Kemudian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tanggal 17 Mei 1990 secara resmi mengeluarkan homoseksual sebagai penyakit. Sehingga 17 Mei dijadikan momentum peringatan International Day Against Homophobia (IDAHO), hari melawan kebencian terhadap homoseksual. Hari menyadarkan pandangan bahwa homoseks itu sebuah kewajaran, sehingga orang yang membenci homoseks patut diperangi.

Di Indonesia sendiri dalam buku Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa, Edisi II, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, tahun
1983 (PPDGJ II) dan (PPDGJ III) 1993, pada point F66 meyebutkan bahwa orientasi seksual (homoseksual, heteroseksual, biseksual) jangan dianggap sebagai suatu gangguan. PPDGJ I-III oleh Depkes ditetapkan sebagai acuan profesi kesehatan jiwa dan akademisi di seluruh Indonesia. Sehingga tuduhan oleh orang atau kelompok bahwa homoseksual selalu dikaitkan dengan gangguan jiwa ataupun penyakit hanya sebuah asumsi dan tuduhan yang tidak berasalan. Karena para para pakar kejiwaan dan pakar psikologi serta para dokter tidak lagi menempatkan homoseks sebagai kelainan, tetapi homoseks adalah sebuah orientasi seks yang sama derajat dan kedudukannya dengan pilihan orientasi yang lainnya (heteroseks, biseks dan lainnya).