Tags

, ,

Sejak lebih dari 150 tahun para ahli Medis-Seksologi dan Psikologis telah berusaha untuk menyelidiki etiologi pembentukan prefensi homoseksual. Beberapa menyatakan orientasi homoseksual ini sudah ada sebelum lahir (Karl Heinrich Ulrichs (1825-1895), Willhart S.Schlegel, Dean Hamer, Günther Dörne serta peneliti lain. Sedangkan Sigmund Freud, Psikoanalisis dari Austria 1905 menyatakan bahwa setiap manusia lahir biseksual.

Dimana dengan terjadinya pengaruh perkembangan hidupnya bisa hetero atau menjadi homoseksual karena identitas sosial dan psikologi setiap manusia dipengaruhi oleh lingkungan hidup pengalamannya. Didukung peneliti Kanada, Anthony Bogaert. Sementara ahli saraf Yi Rao dari Peking University dan National Institute of Biological Science di Beijing menemukan zat otak Serotonin menjadi zat pendorong orang menjadi gay.

Ada beberapa macam perilaku kaum homoseksual, yang menurut Garry Collins terdapat 3 ragam, sebagai berikut:
1. Overt Homosexual,

yaitu mereka yang terkait dengan aktifitas atau hubungan homoseksual secara periodic;
2. Latent Homosexual,
yaitu mereka yang punya ketertarikan seksual terhadap sesama jenis tapi tidak atau belum melakukan hubungan seksual, bahkan ada yang menyangkal kecenderungan tersebut.

3. Circumstantial Homosexual,
yaitu mereka yang secara temporer memilih kegiatan homoseksual, sebab pasangan hidupnya tidak lagi punya kemampuan seksual yang memadai baginya.

Namun ahli lain menggolongkan ragam atau jenis gay tersebut ke dalam 10 peringkat, yaitu:

Peringkat 10: Gay Wanna Be
Kabar baiknya, semua pria di dunia ini memiliki potensi menjadi gay. Ketika mereka memuji ketampanan seorang pemain sinetron pria di TV, hal tersebut sudah lebih dari cukup untuk menunjukkan potensi ke-gay-an lelaki tersebut. Selamat!

Peringkat 09: Gay Denial
Jenis pria yang satu ini mungkin sudah pernah melakukan seks dengan laki-laki lain. Satu-satunya yang menghalangi dia untuk menjadi gay seutuhnya adalah ketakutannya akan norma dan nilai yang ada di masyarakat. To be honest, mereka menikmati seks dengan pria.

Peringkat 08: Open Eye Gay
Ketika seorang pria telah melewati fase penyangkalan, matanya akan terbuka lebar melihat bagaimana dunia gay sebenarnya. It’s not too scary, though. Jadi, kenapa tidak kita menerima kenyataan bahwa kita adalah laki-laki yang menyukai laki-laki. Toh tidak ada pihak yang dirugikan dengan fakta tersebut, bukan?

Peringkat 07: Having Fun Gay
Pada fase ini, seorang gay sudah dapat menikmati seks dengan pria dalam arti yang sesungguhnya. Dalam fase ini pula, mereka mengeksplor berbagai pengalaman baru dalam dunia gay, especially sex. Way to go!

Peringkat 06: Take Benefit Gay
Tingkatan ini bagi mereka yang memiliki naluri bisnis. So, mereka membisniskan seks dalam dunia gay. Ta da… Ternyata peminatnya banyak juga. Sah sah saja hal ini dilakukan, baik secara profesional maupun amatiran. No one will ever judge.

Peringkat 05: Gay Proud To Be
Tahap ini dialami oleh mereka yang secara sengaja maupun tidak terungkap identitas ke-gay-annya oleh orang lain terutama keluarga. Ya, tidak ada yang dapat mereka lakukan kecuali meng-iya-kan dirinya gay dan dia bangga atas pilihanya tersebut. Ingat, gay bukan kriminal, drugs addict, ataupun pecandu alkohol yang harus disadarkan dengan hukuman atau sejenisnya.

Peringkat 04: Gay Extravaganza
Adalah tempat berkumpul para gay yang se-faham bahwa tidak ada lagi yang perludi sembunyikan dengan identitasnya. Mereka bebas berekspresi dan berkreasi. Dunia entertaintment adalah lingkungan yang saat ini sudah dapat menerima keberadaan gay pada tingkatan ini. Well, lingkungan lain akan menyusul.

Peringkat 03: Super Gay
Pria jenis ini tidak mempermasahkan lagi preferensi seksualnya. Dia gay dan dia nyaman dengan hal itu. Ia tidak peduli orang mengatakannya banci karena toh dia bisa melakukan seks dengan wanita dan kalau mau jujur ketrampilannya di ranjang mengalahkan pria hetero. Dia mungkin menikmati seks dengan wanita, tapi toh dia memilih seks dengan pria sebagai preferensi seksualnya.

Peringkat 02: Thankfull Gay
Menjadi gay yang mensyukuri ke-gay-an-nya bukanlah sesuatu yang mudah. Kebanyakan pria gay hanya menggali sisi ke-gay-an mereka untuk bersenang-senang, dalam hal seks misalnya. Menjadi gay yang bersyukur adalah dengan memposisikan diri sebagai seseorang yang diterima masyarakat karena kontribusinya yang berarti bagi lingkungan sekitar tanpa harus kehilangan jati dirinya sebagai gay.

Peringkat 01: Gay Exclusive
Ya, mereka adalah laki-laki yang secara sadar dan logis memilih menjadi gay dan tidak menginginkan selain itu. Pada tahap ini, mereka telah memikirkan pernikahan, membina rumah tangga, serta membesarkan anak yang mereka dapatkan dari hasil adopsi misalnya. Ah, apalagi yang kurang?