Tags

, , ,

angsung ke: navigasi, cari

blue chip adalah sebuah istilah dalam pasar modal yang mengacu pada saham dari perusahaan besar yang memiliki pendapatan stabil dan liabilitas (utang ) dalam jumlah yang tidak terlalu banyak.

Dan Menurut kamus Oxford-American:

Blue-chip = adj. denoting companies or their shares considered to be reliable investment …

Dalam bahasa Indonesia “blue-chip” kira-kira artinya: saham terpercaya atau berkapitalisasi besar yang dianggap sebagai investasi yang relatif aman.

Di Bursa Efek Indonesia, saham-saham yang biasa dikategorikan “blue-chip” adalah perusahaan-perusahaan besar yang dikenal segenap masyarakat. Beberapa di antaranya:
Astra International (ASII)
Bank Mandiri (BMRI)
Bank BRI (BBRI)
International Nickel (INCO)
Indofood Sukses Makmur (INDF)
Perusahaan Gas Negara (PGAS)
Perusahaan Tambang Batu Bara (PTBA)
Unilever (UNVR)

Kebanyakan perusahaan “blue-chip” di Bursa Efek Indonesia adalah BUMN, tapi tidak semua BUMN masuk kategori “blue-chip.” Indofarma (INAF), Kimia Farma (KAEF), Kertas Basuki Rahmat (KBRI) adalah BUMN tapi pasar tidak menganggap perusahaaan-perusahaan tersebut sebagai “blue-chip.”

Bagaimana dengan Bumi Resources (BUMI)? Apakah ia layak dikategorikan “blue-chip”?

Kalau ditelaah dari kapitalisasi pasar, BUMI seharusnya termasuk “blue-chip.” Dilihat dari volume dan aktivitas transaksi saham tersebut yang cukup ramai, BUMI juga seharusnya dikategorikan “blue-chip.” Tapi saya merasa ada sebagian pemain saham Indonesia yang tidak setuju dengan pendapat ini. Jadi, saya memutuskan bahwa kategori BUMI adalah “semi blue-chip.

Intinya, ketika berbicara tentang saham “blue-chip,” anda harus terlebih dahulu menyamakan persepsi. Yang anda anggap “blue-chip” belum tentu dianggap “blue-chip” oleh pialang saham anda. Yang disebut “blue-chip” oleh seorang analis saham, belum tentu dianggap “blue-chip” oleh analis lain.